Berbagi

Berbagi
Curahkan isi hatimu. Jangan biarkan masalah berlarut. Bicara dan jangan pendam apa yang kamu rasa. Hubungi kita di sini agar masalahmu perlahan terasa ringan.

Berkomunitas

Berkomunitas
Jangan biarkan identitasmu membuat kamu tertutup. Cari teman-teman di sini. Saling menyapa dan berkomunikasi. Menjalin persahabatan atau bahkan pasangan.

Perluas Wawasan

Perluas Wawasan
VOU memberikan informasi yang berguna bagi kamu seputar kesehatan, sosial, hiburan, dan lain-lain. Kamu juga bisa berbagi ilmu.

Keblinger

Diperas Karena Webcam Sex

| Rabu, 30 Januari 2013
Sahabat, VoU menerima kisah nyata dari seorang pembaca bernama Fandy (bukan nama sebenarnya). Cerita ini merupakan pengakuan Fandy yang menjadi korban pemerasan yang dilakukan oleh seorang kenalannya di dunia maya.Pemerasan bermula dari webcam sex yang mereka lakukan. Bagaimana kisahnya, berikut penuturan Fandy.

***

Hai, kawan! Lama tak bertemu di depan kamera. Aku kangen sama kamu. Makanya kukoleksi foto-foto seksrimu, mulai dari yang bertelanjang dada hingga pose nakalmu saat ‘melawan’ permainanku di depan kamera. By the way, aku perlu bantuanmu. Aku perlu uang RM 5,000 (Rp 14 juta) untuk keperluanku. Tapi, kalau kamu keberatan, aku akan sebar foto-foto manismu lewat akun Facebook aslimu, blog, dan kukirim lagi ke alamat kantormu.


Deggg!!! Jantung berdegup kencang, hati bergemuruh serasa ada angin topan atau puting beliung menimpaku saat ini. Mungkin seperti ini rasanya takut akan tsunami. Mungkin ini rasanya mencekam di hadapan seekor singa yang lapar. Mendapat pesan tersebut di akun Facebook-ku membuatku sangat lemah tak berdaya, kedua kaki tak mampu berpijak karena kehilangan tenaga. Rasanya ruhku tercopot seketika dari tubuhku.
Jeff! Seorang lelaki yang kukenal dari Facebook. Tentu bukan akun Facebook asliku, tapi akun Facebook abal-abal yang sengaja kubuat agar aku lebih leluasa mengekspresikan perasaanku sebagai seorang pecinta sesama jenis. Sudah lumrah, para kaum homoseksual biasa memiliki akun Facebook lebih dari satu, selain dari akun Facebook aslinya. Biasanya di akun Facebook abal-abal itu, seorang gay akan menyamarkan nama, foto, data profil, dan lain sebagainya. Begitu mendapat seseorang yang dirasa cukup dekat, nyaman, dan dipercaya, biasanya hubungan berlanjut di dunia nyata dengan terlebih dahulu saling bertatap muka di depan Yahoo! Messenger.

Seperti itu pula aku mengenal Jeff. Lelaki seusiaku yang tinggal di Malaysia. Aku mengenalnya di Facebook abal-abalku. Berbulan-bulan, kita menjalin hubungan pertemanan dengan melakukan chatting secara intens hingga kita tertarik satu sama lain. Jeff memintaku untuk mau chatting di Yahoo! Messenger, tentu sambil saling berhadap-hadapan di Webcam laptop masing-masing.

Kata-kata Jeff sungguh manis. Rayuan gombalnya mampu meluluhkan hati. Celotehannya hangat. Candanya jayus tapi mengasyikkan. Sampai kita membicarakan hal-hal yang lebih ‘panas’ dan membuat kita terpancing emosi. Mula-mula ia memintaku membuka baju, begitu pun sebaliknya. Saat sama-sama terbuai dalam api hasrat yang menggebu, mulailah kita berfantasi, merasa seolah-olah kita sedang bertatap berhadap-hadapan tanpa dibatasi Webcam.

Hingga satu tahun, hal itu selalu berulang. Aku semakin percaya pada Jeff. Akhirnya Jeff meminta akun Facebook asliku, katanya agar terasa lebih akrab dan saling menjaga kepercayaan. Aku berikan akun Facebook asliku. Sedangkan Jeff mengaku tak punya Facebook asli, ia hanya punya akun Twitter.
Dan, di bulan ke-14, datanglah pesan itu dari Jeff. Hatiku bergoncang remuk, ingin marah tapi tak bisa terluapkan. Jeff mengirimkan foto-foto bugilku via e-mail dan mengancam akan menyebarkannya pada teman-teman di Facebook asliku dan akan mengirimkannya ke alamat kantor tempatku bekerja karena ia tahu pekerjaanku. Menyesal, sangaaaat menyesal. Namun, hanya menyesal tidak akan menyelesaikan masalah. Ingin lapor polisi, bukanlah hal yang tepat. Tentu semua aibku akan terbongkar, apalagi Jeff tinggal di Malaysia, aku pikir akan sangat ribet urusannya jika berhubungan dengan pihak keamanan.

Yang aku pikirkan saat ini adalah bagaimana aibku tidak tersebar pada teman-temanku, saudara-saudaraku, dan semua berujung pada orangtuaku yang pasti akan sangat sangat sangat kecewa padaku. Padahal, di dunia nyata, aku dikenal sebagai anak baik dan banyak tingkah, bahkan terkesan religius. Ya Allah, inikah cara-Mu menegurku agar aku bertaubat dan lari dari dunia kelam ini?

***

Sahabat VoU yang ingin memberikan tanggapan atau cerita serupa, silakan kirimkan ceritamu ke redaksi VoU melalui e-mail kontak.vou[at]gmail.com.

3 komentar:

Anonim at: 2 Februari 2013 pukul 04.15 mengatakan...

Jgn takut, hadapi dgn tabah. Akun facebook yg asli dibuat deactived dl krna sampai 30hri msh bs diaktifkan. Kalaupun dia tau alamat kantor, kamu bisa ber-alibi itu bukan photo kamu, katakanlah hasil editan dgn wajah kamu. Mmg ga mudah menjalani, tapi harus dihadapi. Ttp semangat 'n byk brdoa. Ini pelajaran sekaligus pembelajaran utk semua. Sabar ya 'n turut berempati buat kamu.

Anonim at: 30 April 2013 pukul 13.09 mengatakan...

itulah naluri kita, tidak ada yang mengajarkan kenapa kita harus panik ketika mendapatkan hal tersebut, tapi tiba tiba saja kita merasa dalam bahaya, ketika anda terlibat dalam kegiatan mereka, mungkin anda menganggap itu bagian dari naluri anda tetapi ketika terjadi pemerasan and akan terkejut ternyata ada 2 naluri bertentangan, sebuah naluri baru yang tidak akan bisa dipenetrasi oleh apapun yaitu hati nurani.

Anonim at: 30 April 2013 pukul 13.20 mengatakan...

dalam kasus tersebut sang korban tidak merasakan ngilu dari kuku, tidak merasakan panas di wajah, dan tidak merasakan panas di ulu hati, akan tetapi merasakan seperti menghianati keluarga, walaupun keluarga tidak tahu dia akan merasakan menghianati seseorang yang dimana jika dia terisolasi dari pengetahuan agama atau mengetahui ajaran agamanya, dia tetap akan merasakan bahwa seseorang akan merasa kecewa, jika dia mengenal ajaran agamanya tentulah maksudnya Tuhan.

Posting Komentar

 

Copyright © 2010 Voice of Us | Design by Dzignine